Mimpi Bapak

Malam tadi aku kembali bermimpi tentang bapak. Dimana bapak memiliki kehidupannya sendiri. Menjadi penunggu sebuah perpustakaan milik negara. Berada di sebuah desa terpencil.

Bapak berada di sana jauh dari keluarga, ditemani beberapa relawan.

Bapak berada di sana, setelah kami bertengkar besar.


Waktu itu sebelumnya, aku pergi bersama Bapak, seperti biasanya. Kami berdua berboncengan dengan sepeda motor legenda milikku. Seperti jaman dahulu kala. Namun di suatu ketika, Bapak melihat ada orang menjual bangkai kambing. Dan entah apa yang ada di pikirannya, Bapak meminta aku membelikannya untuk dimasak nanti di rumah.

Dan karena itu bangkai, aku tidak mau membelikannya. Aku memaksa untuk beli daging yang segar saja. Bapak tidak mau. Dan aku pun marah setelah merasa bapak kekanak-kanakkan dan tidak logis. Aku tidak tahu alasannya, karena bapak hanya bilang, murah, kasian yang jual. Aku bilang ya kita beli tapi nanti dibuang saja. Bapak bilang jangan beli kalau tidak untuk dimakan. Ya udah jangan beli, kataku. Tapi bapak mengeyel memaksa untuk membelinya. Namun akhirnya aku tetap tidak membelikannya.

Sampai di rumah. Kami masih bertengkar. Sampai keluar kata-kata yang tidak menyenangkan dari mulut bapak.
Kamu ga perlu ngurusi bapak kalau ga mau. Bapak pergi saja.”
Kalimat yang sangat aku tidak suka dari bapak. Dan entah kenapa aku saat itu bilang, “bapak ga usah pergi, aku yang pergi“.

Dan aku pergi, rasanya untuk waktu yang cukup lama. Tidak melakukan kontak sama sekali dengan Bapak. Hanya sesekali dengan Ibu menanyakan kondisi Bapak. Dan Ibu selalu berkata Bapak sehat, sekarang kerja di suatu tempat. Tapi Ibu tidak memberitahuku di mana. Aku pun juga jarang bertanya lebih lanjut.


Hingga saatnya, aku rindu. Karena aku melihat suatu iklan di TV, dan ada bapak di situ, dengan segala kondisinya sama seperti sekarang. Dan aku bilang kepada ibu. Aku pingin melihat bapak.

Ibu mengajakku pergi. Kami berdua naik mobil. Ke tempat yang cukup jauh dan terpencil. Di sebuah komplek bangunan pemerintahan yang sederhana.

Aku dan ibu duduk di sebuah taman di halaman. Sambil melihat bapak dari kejauhan. Bapak terlihat muda. Bapak terlihat bahagia. Sambil sesekali menata buku di perpustakaan. Membantu menjelaskan isi buku kepada beberapa anak-anak yang sedang membaca. Lalu kemudian bapak kembali lagi duduk. Membaca buku sambil menikmati camilan. Bapak terlihat sehat. Walaupun masih tertatih saat berjalan karena penyakit strokenya. Dan mengunyah perlahan karena semua giginya sudah hilang. Persis kondisi sekarang. Hanya terlihat lebih bahagia. Dan lebih muda.

Rasanya sudah lama sekali tidak melihat bapak seperti itu. Ibu terlihat tegar melihatku merindukannya.

Hingga kemudian kami mendekat. Bapak menyapa ibu. Dan terlihat mengobrol bahagia. Sepertinya Ibu masih sering mengunjungi Bapak dan ngobrol bersama.

Aku menunggu di balik jendela. Hingga akhirnya entah kenapa bapak menyadari keberadaanku, dan menengok lewat jendela. Dan tersenyum khas bapak sambil berkata, “Lho mas ikut to? sini masuk, gimana sehat kan? Kerjaan lancar kan?” tanpa meninggalkan rasa benci atau marah sedikitpun. Sama seperti masa itu setiap kali kami bertemu setelah lama berpisah.

Kata-kata itu membuatku terbangun dan menitikkan air mata.


Bapak, jika mimpi itu berlanjut, aku hanya ingin mengatakan hal ini kepadamu seraya mencium tanganmu.

Maafkan aku pak. Jika aku kadang tidak sejalan dengan keinginan bapak. Karena bagiku kadang keinginan bapak tidak masuk akalku. Aku memiliki jalan pikiran sendiri, sebagaimana bapak juga memilikinya. Yang terkadang kita berbeda.

Ada batasan yang bisa aku lakukan dan yang tidak. Aku tetap pada prinsipku. Dan aku juga berusaha menghargai prinsip bapak untuk bisa berkarya bagi orang lain.

Yang aku mohon sekarang, hanyalah bapak sehat dan bahagia, walaupun bukan karena aku. Yang aku sedihkan hanyalah ibu yang terkadang terasa jauh dari bapak, merindukanmu. Namun aku tahu ibu wanita kuat.

Jika bapak ingin pulang ke rumah, aku siap menjemput. Dan selama itu belum terjadi, aku harap bapak bahagia di sini. Jangan lupa tetap berkomunikasi dengan ibu. Karena kalian adalah suami istri yang ditakdirkan sehidup semati. Aku, anakmu, hanyalah sebuah titipan yang hanya sementara. Aku punya kehidupan yang harus kujalani, bersama istriku. Dan nantinya anak-anak titipan Tuhan.

Aku sudah tidak marah, namun aku menghormati keinginanmu. Pulanglah jika bapak ingin, menemani ibu.

There is nothing you need to proof of. I will love you no matter what. You just need to be happy, even without us surrounding you. Even we cannot hug you, I will always thank and love you.


Aku tidak tau apa arti mimpi itu. Ya, mimpi hanyalah mimpi. Namun rasa yang ditimbulkan begitu nyata. Aku hanya berharap bapak bisa bahagia, dan semoga kebahagiaan itu bisa tercipta bersama. Tanpa harus melewati rasa sakit dan perpisahan. Tanpa harus seperti dalam mimpi.

Sehat-sehat ya pak. ?

Senyum bapak dan ibu